Seperti yang kita ketahui, banyak
sekali bahasa daerah digunakan sebagai bahasa berkomunikasi setiap
harinya di masyarakat setempat. Hal ini dikarenakan tidak semua
masyarakat memahami penggunaan bahasa Indonesia yang baku. Selain itu
masyarakat merasa canggung menggunakan bahasa Indonesia yang baku di
luar acara formal atau resmi. Oleh karena itu, masyarakat lebih
cenderung menggunakan bahasa Indonesia yang telah terafiliasi oleh
bahasa daerah, baik secara pengucapaan maupun arti bahasa tersebut.
Kebiasaan penggunaan bahasa daerah ini sedikit banyak akan
berpengaruh terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang merupakan
bahasa resmi negara Indonesia.
II. PEMBAHASAN
PENGARUH BAHASA DAERAH DAN BAHASA
ASING TERHADAP BAHASA INDONESIA
II.1 Pengaruh Bahasa Daerah
Terhadap Bahasa Indonesia
Keanekaragaman budaya dan bahasa
daerah mempunyai peranan dan pengaruh terhadap bahasa yang akan
diperoleh seseorang pada tahapan berikutnya, khususnya bahasa formal
atau resmi yaitu bahasa Indonesia. Sebagai contoh, seorang anak
memiliki ibu yang berasal dari daerah Sekayu sedangkan ayahnya
berasal dari daerah Pagaralam dan keluarga ini hidup di lingkungan
orang Palembang. Dalam mengucapkan sebuah kata misalnya “mengapa”,
sang ibu yang berasal dari Sekayu mengucapkannya ngape (e dibaca
kuat) sedangkan bapaknya yang dari Pagaralam mengucapkannya ngape (e
dibaca lemah) dan di lingkungannya kata “megapa” diucapkan ngapo.
Ketika sang anak mulai bersekolah, ia mendapat seorang teman yang
berasal dari Jawa dan mengucapkan “mengapa” dengan ngopo. Hal ini
dapat menimbulkan kebinggungan bagi sang anak untuk memilih ucapan
apa yang akan digunakan.
Akan tetapi tidak dapat dipungkiri
bahwa keanekaragaman budaya dan bahasa daerah merupakan keunikan
tersendiri bangsa Indonesia dan merupakan kekayaan yang harus
dilestarikan. Dengan keanekaragaman ini akan mencirikan Indonesia
sebagai negara yang kaya akan kebudayaannya. Berbedannya bahasa di
tiap-tiap daerah menandakan identitas dan ciri khas masing-masing
daerah. Masyarakat yang merantau ke ibukota Jakarta mungkin lebih
senang berkomunikasi dengan menggunakan bahasa daerah dengan orang
berasal dari daerah yang sama, salah satunya dikarenakan agar
menambah keakraban diantara mereka. Tidak jarang pula orang
mempelajari sedikit atau hanya bisa-bisaan untuk berbahasa daerah
yang tidak dikuasainya agar terjadi suasana yang lebih akrab.
Beberapa kata dari bahasa daerah juga diserap menjadi Bahasa
Indonesia yang baku, antara lain kata nyeri (Sunda) dan kiat
(Minangkabau).
Berikut beberapa pengaruh atau
dampak penggunaan bahasa daerah terhadap bahasa Indonesia:
• Dampak Positif:
a) Bahasa Indonesia memiliki banyak
kosakata.
b) Sebagai kekayaan budaya bangsa
Indonesia.
c) Sebagai identitas dan ciri khas
dari suatu suku dan daerah.
d) Menimbulkan keakraban dalam
berkomunikasi.
• Dampak Negatif:
a) Bahasa daerah yang satu sulit
dipahami oleh daerah lain.
b) Warga negara asing yang ingin
belajar bahasa Indonesia menjadi kesulitan karena terlalu banyak
kosakata.
c) Masyarakat menjadi kurang paham
dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baku karena sudah terbiasa
menggunakan bahasa daerah.
d) Dapat menimbulkan
kesalahpahaman.
Pada bahasa-bahasa daerah di
Indonesia juga terdapat beberapa kata yang sama dalam tulisan dan
pelafalan tetapi memiliki makna yang berbeda, berikut beberapa
contohnya:
a. Suwek dalam bahasa Sekayu
(Sumsel) bermakna tidak ada.
Suwek dalam bahasa Jawa bermakna
sobek.
b. Kenek dalam bahasa Batak
bermakna kernet (pembantu sopir).
Kenek dalam bahasa Jawa bermakna
kena.
c. Abang dalam bahasa Batak dan
Jakarta bermakna kakak.
Abang dalam bahasa Jawa bermakna
merah.
d. Mangga dalam bahasa Indonesia
bermakna buah mangga.
Mangga dalam bahasa Sunda bermakna
silakan.
e. Maen dalam bahasa Indonesia
bermakna bermain.
Maen dalam bahasa Batak bermakna
gadis.
f. Gedang dalam bahasa Sunda
bermakna pepaya.
Gedang dalam bahasa Jawa bermakna
pisang.
g. Cungur dalam bahasa Sunda
bermakna sejenis kikil.
Cungur dalam bahasa Jawa bermakna
hidung.
h. Jagong dalam bahasa Sunda
bermakna jagung.
Jagong dalam bahasa Jawa bermakna
duduk.
i. Nini dalam bahasa Sunda bermakna
nenek.
Nini dalam bahasa Batak bermakna
anak dari cucu laki-laki.
j. Tulang dalam bahasa Indonesia
bermakna tulang.
Tulang dalam bahasa Batak bermakna
abang atau adik dari ibu.
k. Iba dalam bahasa Indonesia
bermakna merasa kasihan.
Iba dalam bahasa Batak bermakna
saya.
l. Bere dalam bahasa Sunda bermakna
memberi.
Bere dalam bahasa Batak bermakna
anak dari kakak atau adik perempuan kita.
Melalui beberapa contoh itu
ternyata penggunaan bahasa daerah memiliki tafsiran yang berbeda
dengan bahasa lain. Jika hal tersebut digunakan dalam situasi formal
seperti seminar, lokakarya, simposium, proses belajar mengajar yang
pesertanya beragam daerahnya akan memiliki tafsiran makna yang
beragam. Oleh karena itu, penggunaan bahasa daerah haruslah pada
waktu, tempat, situasi, dan kondisi yang tepat.
II.2 Pengaruh Bahasa Asing Terhadap
Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia dari awal
pertumbuhannya sampai sekarang telah banyak menyerap unsur-unsur
asing terutarna dalam hal kosa kata. Kata serapan adalah kata yang
berasal dari bahasa asing yang sudah diintegrasikan kedalam suatu
bahasa dan diterima pemakaiannya secara umum. Bahasa Indonesia
menyerap banyak kata dari bahasa-bahasa lain, terutama dari negara
yang pernah berhubungan langsung dengan Indonesia baik melalui
perdagangan (Sansekerta, Arab, dan Tionghoa), melalui penjajahan
(Portugis, Jepang, Belanda), maupun dari perkembangan ilmu
pengetahuan (Inggris).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar